Published On: Tue, Dec 1st, 2015

Investasi Asing & Nasionalisme

banner

Sejak Orde Baru berkuasa, pemodal asing banyak mengalir ke dalam negeri untuk berinvestasi di bidang industri manufaktur, pertambangan, infrastruktur dan lain sebagainya. Terbukti memang investasi asing telah menggerakan perekonomian nasional dimana pembangunan terlihat sangat masiv.kris jas

Menurut data BKPM, realisasi investasi asing (PMA) dalam lima tahun terakhir (Januari 2010 hingga September 2015) telah mencapai Rp 1.388,5 triliun. Sebuah angka yang sangat besar untuk modal pembangunan, sehingga Pemerintahan Jokowi mati-matian menjaga investasi tetap kondusif, hingga mengeluarkan 6 paket kebijakan ekonomi. Namun investasi di sektor riil yang paling diharapkan, bukan investasi di pasar saham yang sering membuat nilai tukar Rupiah panas dingin.

Investasi asing memang dibutuhkan, namun yang lebih utama adalah kemandirian bangsa di bidang ekonomi. Ketergantungan bangsa ini terhadap investasi asing lebih dari 40 tahun menyebabkan kita lengah dan tidak mempersiapkan SDM dan Iptek dengan baik. Padahal kekayaan alam dan SDM yang bangsa Indonesia miliki sangatlah besar. Kita tidak “PEDE” mengelola kekayaan alam sendiri, dengan alasan tidak punya modal,atau SDM dan teknologinya masih pas-pasan.

Di sisi lain banyak pejabat kita yang main mata dengan investor asing, sehingga asing dapat mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia selama bertahun-tahun. Sebut saja “Gunung Emas” di Papua yang dikelola PT. Free Port Indonesia selama lebih dari 40 tahun dimana kontrak karyanya akan berakhir di tahun 2021. Dan persoalan ini terus menjadi polemik, apakah akan diperpanjang atau diambil alih oleh negara. Hingga kita disuguhkan “Sinetron Perang Antar Geng” jika mengambil istilah dari Rizal Ramli Menko Maritim dan Sumber Daya, memaknai kasus antara Sudirman Said dan Setya Novanto terkait masalah perpanjangan kontrak Karya Free Port.

Terkadang jiwa nasionalisme kita terusik, kita sudah merdeka 70 tahun namun seakan-akan belum merdeka dari penjajahan kapitalisme. Dulu dijajah secara fisik, dan sekarang secara ekonomi dan budaya. Pasti kita ingin merdeka sepenuhnya melalui “TRISAKTI BUNG KARNO” yaitu berdaulat dibidang politik, berdikari dibidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan. Kalau seperti ini apakah kita “ANTI ASING” ? tentulah tidak. Kita bahkan harus bekerja sama dengan orang asing atau negara lain terutama dalam bidang IPTEK. Bangsa ini masih harus banyak belajar bagaimana mengelola sumber daya alam, membangun sebuah kota, mengatasi suatu bencana dan sebagainya.

Investasi asing dan nasionalisme harus berkolaborasi, artinya silahkan asing menanamkan modal bahkan mendatangkan tenaga ahlinya, sementara bangsa ini harus punya kendali dalam mengelola. Jika diibaratkan perusahaan, pemilik saham terbesar harus pemerintah Indonesia dalam hal ini BUMN, asing boleh punya saham namun dibatasi. Untuk tenaga ahlinya, juga harus ada pendamping dari orang Indonesia, yang tujuan akhirnya adalah bisa sharing ilmu dan teknologi.

Sementara itu, pengusaha nasional yang “nasionalis” perlu diberikan ruang yang luas dan hak istimewa dari pemerintah, untuk berinvestasi di dalam negeri. Jangan hanya memarkir uangnya di Bank Siangapura dan Bank Swiss. Mereka perlu dipanggil dan dilibatkan dalam pembangunan nasional, kemudian diberikan tanda jasa setingkat dengan “tanda jasa pahlawan”. Orang-orang ahli Indonesia yang tinggal di luar negeri juga harus diminta pulang, diberi gaji lebih besar untuk bekerja di BUMN-BUMN. Jika kekuatan dan potensi negara dan bangsa Indonesia disatukan, tidak mustahil bangsa ini akan menjadi bangsa maju dan disegani oleh bangsa-bangsa lain. (red)

banner

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

nisp
4 M Kepada Desa Sukaresmi Aditya Maulana Dari Waitress Hingga Hotel Manager Anggota Sarbumusi Berhak Terima Dana Pensiun 100 Juta Antara Gaya Hidup & Kesehatan Berburu Berkah Di Bulan Ramadhan bioskop cinemaxx BUDIYANTO Cikarang Ditinggal Mudik CSR Kabupaten Bekasi Dadali Hibur Anak Yatim Cikarang Daeng Muhammad Bangun Masjid Talagamanggung di Pebayuran Demokrasi Mini Ala Warga "Berlian" Faber Castell Memperluas Pabrik di MM2100 GABUNGAN OPERATOR TV KABEL INDONESIA DEKLARASI GERAKAN NASIONAL TAYANG FTA GRATIS Gema Ramadhan dan Idul Fitri LPPM Jababeka Glorious Ramadan at Mal Lippo Cikarang GROUND BREAKING MAYFAIR Estate & Parklands di Jababeka Residence Hipertensi : Masalah Serius Pada Generasi Muda Hotel Sahid Jaya Lippo Cikarang Santuni 100 Anak Yatim Java Palace Hotel KAMPUNG HALAMAN Kapolresta Bekasi Tinjau Kesiapan Personil Amankan Mudik 2015 Kemilau Ramadhan 2015 Jababeka Residence Kodim Kawal Kegiatan Gemar Membaca Komunitas BerbagiNasi Cikarang dan Coca-Cola Amatil Indonesia Gelar Berbagi Ceria di Bulan Ramadhan Komunitas Peduli Cikarang Peduli Yatim Piatu Dan Lingkungan LATIN NIGHT BARBECUE @ GRANDE VALORE HOTEL – JABABEKA LEBARAN MENGINAP GRATIS DI HOTEL SANTIKA CIKARANG Lippo Cikarang Serahkan Bantuan Senilai 4 Papinka Goyang Basecamp NCRadio Pemasangan Kawat Gigi Penampilan Memukau Para Siswa Berkebutuhan Khusus President Special Needs Centre (PSNC) Pencegahan Penyakit Akibat Kerja PROMO “BERKAH RAMADHAN” Hotel Santika Cikarang PSNC Siapkan Pengembangan Anak Berkebutuhan Khusus Usia Dewasa PT. Suzuki Indomobil Sales (SIS) PT Cameron Services International Lulus Sertifikasi OHSAS 18001:2007 & SMK3 PT Trans Jakarta Luncurkan Bus Tingkat Pariwisata Tematik Rira GreenPark Kembangkan Cluster Perkantoran Dan Pergudangan Khusus UKM Samsung Siap Produksi Ponsel dan Tablel Sebanyak 1 Juta/Bulan Sekjen Aspelindo : Pemda Harus Siapkan SDM Lokal Hadapi MEA Soft Opening Batiqa Hotel Suzuki Tambah Investasi Tasyakuran Kelulusan Siswa SDIT An Nur Angkatan Kesembilan Wisuda Ke-10 President University