Published On: Fri, Jul 3rd, 2015

KAMPUNG HALAMAN

banner

Semua yang ingin kita ketahui dalam hidup ini sudah kita pelajari di Taman Kanak-kanak. Begitu kata pemeo yang berlaku di seluruh dunia. Artinya, masa kecil sangat penting. Semua dimulai pada usia dini, di kampung halaman.eka budianta
Pemandangan paling indah, lagu paling merdu, makanan paling lezat, dan informasi paling penting, semua tersedia di kampung halaman alias tanah tumpah darah kita. Itu sebabnya desa atau kota atau kampung tempat kita dilahirkan menjadi sangat penting. Kita ingin tumbuh dan dibesarkan dengan nuansa kehidupan yang selengkap-lengkapnya.
Ada kehidupan yang sehat dan asri. Ada kerukunan sosial, kemakmuran ekonomi dan keragaman berbudaya. Kita memerlukan lingkungan yang bersih, udara segar, air yang jernih dan tanah yang subur. Kalau ada batu, pohon, binatang dan hujan pun kita inginkan yang ramah. Kita tidak suka bencana alam atau kerusakan buatan manusia. Kita menghindari kekerasan baik fisik apalagi batin. Kita mencegah adanya kekejaman, perundungan dan hal-hal yang menekan, menegangkan.
Itu sebabnya kita suka mendapatkan rasa aman dan damai di kampung halaman. Maka, setiap tahun – meskipun jauh dan perlu biaya, kita usahakan pulang ke kampung halaman. Bagi mayoritas masyarakat di Indonesia hal itu dijadikan ritual mudik lebaran.
Di belahan bumi lain ada yang menunggu tahun baru. Ada juga yang pulang kampung pada hari ulang tahun, pergantian pemimpin, wafat atau pernikahan saudara. Yang penting ada saat utama untuk menghirup dan mengenang kembali masa emas dalam hidup ini.
Dan masa emas itu tidak lain dari lima atau tujuh tahun pertama hidup kita, di tempat pertama yang menyambut kehadiran kita di bumi. Memang ada juga yang “baru menemukan” kampung halaman setelah dewasa, setelah mendapat ketenteraman batin di kelak kemudian hari, tapi intinya tetap sama, yaitu keterikatan jiwa raga ini dengan tempat yang paling kita sukai.
Jadi yang utama adalah kampung halaman. Kita perlu tempat yang tepat untuk hidup dan mati. Definisi kampung halaman adalah habitat di mana kita suka tinggal “sampai akhir menutup mata.”
Jadi bukan hanya tempat kita suka atau terpaksa dilahirkan, tapi lokasi di mana kita tidak keberatan hidup sampai mati.
Contoh klasik di masa lalu adalah para perantau dari Tegal yang suka mendirikan warung-warung kecil di berbagai kota. Sekalipun sukses dan mendapat banyak uang, mereka lebih senang mengirim hasilnya ke kampung halaman. Kalau mati, mereka tetap ingin dikubur di kampung halaman. Karena itu mereka bersatu menyiapkan ambulan atau mobil jenasah yang sewaktu-waktu diperlukan kalau ada yang harus balik untuk selamanya.
Belakangan fanatisme serupa kita dengar apa bila ada tenaga kerja Indonesia meninggal di luar negeri. Selalu keluarga mengusahakan berbagai upaya untuk mendapat badannya kembali. Baik yang meninggal karena kecelakaan, penyakit maupun mendapat hukuman mati, jenasahnya selalu ditunggu pulang ke kampung halamanan. Berapa pun biayanya, diusahakan bisa tercukupi. Kalau tak ada uang, negara didesak menanggungnya, atau pihak asuransi.
Awal tahun 2015 ini kita menyambut jenasah penyair Sitor Situmorang dari Negeri Belanda yang mewasiatkan untuk dimakamkan di tepi Danau Toba, Sumatera Utara. Pada awal puasa kemarin, kita juga mengikuti berita pemakaman bocah 8 tahun, Engeline yang meninggal sengsara di Pulau Bali. Jenasahnya pulang ke kampung ibunya di Jawa Timur, diantar seorang menteri dan pejabat daerah pula.
Pendek kata, tidak ada yang lebih penting dari kampung halaman dalam hidup yang singkat ini. Karena itu kita sampai pada kesimpulan; apa yang dapat kita lakukan untuk membuktikan cinta pada kampung halaman?
Tentu kita tidak mau dikenal sebagai penikmat Cikarang, penggemar Indonesia yang hanya mereguk keindahan dan melahap kenikmatan sebuah tempat yang disebut kampung halaman. Tentu kita tidak hanya senang pada keindahan tempat, kelezatan kuliner dan keramahan masyarakat suatu daerah. Kita juga ingin berterima kasih dan berbakti kepada kampung halaman itu.
Kita tidak hanya marah, protes dan mengeluh kalau ada sesuatu kurang beres dengan kampung halaman kita. Ooo listriknya kurang terang. Ah, fasilitas air dan transportasi susah. Aduh – tak ada sekolah, restoran dan sarana olah raga. Sialan tak ada ini tak ada itu, kurang ini kurang itu. Seorang manusia yang berbudaya, berpendidikan dan beragama tidak pantas mengeluh seperti itu. Dengan berbagai upaya dan daya tentu kita memikirkan dan berusaha memperbaiki, serta menambahi yang kurang.
Itulah intinya menjadi warga masyarakat yang sadar punya kampung halaman. Kita menyadari punya peran dan menjalankan tugas mulia dalam hidup di bumi. Kita memanfaatkan semua kesempatan, momen berharga yang mengkaitkan hidup ini dengan alam semesta atau bagiannya yang paling kita cintai.
Selamat berlebaran, selamat mudik, selamat membuktikan bahwa anda mencintai kampung halaman, lengkap dengan sanak-saudara, bahkan kalau hanya dapat ditemui makamnya. Bagi yang tidak perlu mudik, mudah-mudahan kita bisa menunjukan, di mana kita berada di situlah kampung halaman kita. Tempat ini kita cintai, kita rawat dan kita perhatikan sebaik-baiknya. Sebab, di sini kita tidak keberatan dimakamkan, dikenang atau dilupakan untuk selama-lamanya. Di kampung halaman ini kita melakukan yang paling baik sampai saatnya harus beristirahat abadi. Eka Budianta, Budayawan.

banner

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

nisp
4 M Kepada Desa Sukaresmi Aditya Maulana Dari Waitress Hingga Hotel Manager Anggota Sarbumusi Berhak Terima Dana Pensiun 100 Juta Antara Gaya Hidup & Kesehatan Berburu Berkah Di Bulan Ramadhan bioskop cinemaxx BUDIYANTO Cikarang Ditinggal Mudik CSR Kabupaten Bekasi Dadali Hibur Anak Yatim Cikarang Daeng Muhammad Bangun Masjid Talagamanggung di Pebayuran Demokrasi Mini Ala Warga "Berlian" Faber Castell Memperluas Pabrik di MM2100 GABUNGAN OPERATOR TV KABEL INDONESIA DEKLARASI GERAKAN NASIONAL TAYANG FTA GRATIS Gema Ramadhan dan Idul Fitri LPPM Jababeka Glorious Ramadan at Mal Lippo Cikarang GROUND BREAKING MAYFAIR Estate & Parklands di Jababeka Residence Hipertensi : Masalah Serius Pada Generasi Muda Hotel Sahid Jaya Lippo Cikarang Santuni 100 Anak Yatim Java Palace Hotel KAMPUNG HALAMAN Kapolresta Bekasi Tinjau Kesiapan Personil Amankan Mudik 2015 Kemilau Ramadhan 2015 Jababeka Residence Kodim Kawal Kegiatan Gemar Membaca Komunitas BerbagiNasi Cikarang dan Coca-Cola Amatil Indonesia Gelar Berbagi Ceria di Bulan Ramadhan Komunitas Peduli Cikarang Peduli Yatim Piatu Dan Lingkungan LATIN NIGHT BARBECUE @ GRANDE VALORE HOTEL – JABABEKA LEBARAN MENGINAP GRATIS DI HOTEL SANTIKA CIKARANG Lippo Cikarang Serahkan Bantuan Senilai 4 Papinka Goyang Basecamp NCRadio Pemasangan Kawat Gigi Penampilan Memukau Para Siswa Berkebutuhan Khusus President Special Needs Centre (PSNC) Pencegahan Penyakit Akibat Kerja PROMO “BERKAH RAMADHAN” Hotel Santika Cikarang PSNC Siapkan Pengembangan Anak Berkebutuhan Khusus Usia Dewasa PT. Suzuki Indomobil Sales (SIS) PT Cameron Services International Lulus Sertifikasi OHSAS 18001:2007 & SMK3 PT Trans Jakarta Luncurkan Bus Tingkat Pariwisata Tematik Rira GreenPark Kembangkan Cluster Perkantoran Dan Pergudangan Khusus UKM Samsung Siap Produksi Ponsel dan Tablel Sebanyak 1 Juta/Bulan Sekjen Aspelindo : Pemda Harus Siapkan SDM Lokal Hadapi MEA Soft Opening Batiqa Hotel Suzuki Tambah Investasi Tasyakuran Kelulusan Siswa SDIT An Nur Angkatan Kesembilan Wisuda Ke-10 President University