Published On: Mon, Mar 19th, 2018

Mengatasi Stres Ujian Nasional

banner

Mengatasi Stres Ujian Nasional

Nasri Kurnialoh, Pemerhati Pendidikan Kabupaten Bekasi, anggota KGPBR

Agenda tahunan  pendidikan Ujian Nasional (UN) untuk SMP/MTs/ SMA/SMK/MA siap dilaksanakan sesuai jadwal yang sudah menjadi kalender pendidikan. Pelaksanaan UN 2018 akan berbasis komputer atau secara daring (dalam jaringan; online) dan harus terselenggara  dengan  maksimal.  Nasri Kurnialoh

Fakta ini, suka atau tidak, perlu disikapi secara cermat oleh pihak Kemendikbud dan sekolah/madrasah. Sebab, jika pihak sekolah/madrasah tidak memiliki fasilitas berupa laboratorium komputer dan jaringan internet yang memadai, tentu pelaksanaan UN 2018 akan banyak terganggu. Di samping itu, budaya pemakaian internet di kalangan siswa belum merata, seperti di daerah-daerah 3T (terdepan, terbelakang, dan tertinggal). Sulit dibayangkan, jika siswa-siswa di daerah minus itu harus mengikuti UN 2018 secara daring, padahal dalam keseharian mereka kurang mengenal internet.

Meski hasil UN tidak lagi menjadi penentu utama kelulusan. Ternyata, dalam UN siswa, guru, kepala sekolah dan orang-tua, masih diliputi perasaan cemas, khawatir nilai UN jelek, kendati kelulusan siswa ditentukan dari akumulasi nilai UN dan Ujian Akhir Sekolah (UAS). Jika ditilik lebih lanjut, pemicunya adalah diterapkannya sistem daring (dalam jaringan online) dan peningkatan jumlah soal yang sukar serta siswa telanjur memahami UN tak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, sehingga siswa hanya siap mengerjakan soal-soal mata pelajaran yang akan di UN-kan dan abai terhadap mata pelajaran lainnya.

Namun demikian, acapkali perasaan cemas mereka berlebihan, sehingga stres. M Dahlan Al-Barry (1994) mengartikan stres dengan tekanan. Hans Selye (1907-1982), dokter kelahiran Vienna, membagi stres menjadi dua tipe. Pertama, Eustres atau stres yang baik. Eustres adalah stres yang menghasilkan respons atau perasaan yang positif terhadap stressor (korban) itu sendiri. Kedua, distress atau stres yang buruk.  Ketika  distress  tidak  segera  diatasi, akan menimbulkan penyakit susulan yang bersifat permanen dan sudah tentu mengganggu aktivitas kita sehari-hari.

Mengatasi Stres

Sebenarnya, banyak cara untuk mengatasi stres. Itu semua tergantung dengan orangnya (stressor). Ada yang mengatasi dengan istirahat atau tidur, mendengarkan musik, sekadar jalan-jalan untuk menghirup udara segar, makan dan lainnya. Hal yang terpenting ketika menghadapi stres adalah selama kita masih mampu menanggapinya dengan berpikir positif, perasaan stres itu dengan sendirinya tak akan mengganggu aktivitas ataupun membahayakan kesehatan kita.

Dalam UN tahun ini, diperkirakan banyak siswa mengalami stres yang kadangkala berlebihan. Dalam kondisi demikian, ada dua tipe siswa dalam menyikapi situasi tersebut. Pertama, siswa yang mampu mengatasi stres tersebut dengan cara yang baik (eustres). Dalam tipe ini, mereka berpendapat, UN dijadikan sebagai pemetaan dan alat untuk mengukur kompetensi tenaga guru dan kemampuan siswa, kelebihan dan kekurangan tingkat satuan pendidikan. Dalam hal ini, kita bisa belajar pada Amerika Serikat, Malaysia, Singapura dan negara-negara Eropa yang memberlakukan Ujian Nasional (UN) dipakai untuk  mengarahkan  siswa  studi  ke  jenjang yang lebih tinggi dan menentukan status satuan pendidikan atau sekolah.

Selain itu, mereka yang mampu mengatasi stres dengan cara yang baik akan membuat mereka lebih rajin dalam belajar, salat lima waktu dan  berdoa.  Menurut  Karyana  dan  Priyono (2001), kegiatan berdoa bersifat memicu aktivitas gelombang-gelombang elektromagnetik dalam otak yang akan memunculkan ide-ide kreatif serta jika salat lima waktu dilaksanakan dengan niat ikhlas, tulus dan tumakninah, salat dapat merelaksasikan pikiran dan otot yang tegang, sehingga tingkat stressor dapat berkurang.

Kedua, siswa yang tidak mampu mengatasi stres dengan baik (distress). Siswa tipe ini akan merasa panik dan tegang berlebihan, yang mengakibatkan mereka tidak  dapat  fokus  dalam  belajar dan bahkan menghalalkan segala cara demi lulus di UN.

Perlu diingat, kecemasan dan ketegangan berlebihan melanggengkan kegagalan. Hasil penelitian yang dilakukan Sarason dkk yang dikumpulkan Spielberger (1996), membuktikan, siswa yang mempunyai tingkat kecemasan rendah mempunyai prestasi lebih baik daripada siswa  yang  mempunyai  tingkat  kecemasan tinggi. Rasa cemas berlebihan pada guru dan kepala sekolah juga menjauhkan mereka dari target yang ditetapkan pemerintah.

Kini, sangat penting bagi siswa, guru, kepala sekolah dan orangtua untuk menjaga pola pikir dalam memandang segala sesuatu. Berpikir positif mendapat hasil yang baik. Sebaliknya, mereka yang menginginkan segala sesuatu bisa diperoleh dengan mudah dan cepat alias instan adalah tipe siswa yang tidak terlatih ketika menghadapi masalah pelik, dengan cepat akan merasa buntu, sehingga dengan gegabah mengambil suatu tindakan yang dapat merugikan diri sendiri atau bahkan orang lain.

Tri pusat pendidikan yang memiliki kultur positif, dapat membuat anak free stress. Atmosfer dan iklim yang nyaman  hanya  dapat  berkembang  dalam landscape (fisik) maupun socio-cultural scape (sosio budaya) yang sarat kasih sayang dan pengayoman. Masalah stres terhadap anak memerlukan langkah solutif, kuratif dan preventif, dengan melibatkan berbagai pihak supaya Ujian Nasional memiliki dampak positif di masa mendatang.

 

banner

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

nisp
4 M Kepada Desa Sukaresmi Aditya Maulana Dari Waitress Hingga Hotel Manager Anggota Sarbumusi Berhak Terima Dana Pensiun 100 Juta Antara Gaya Hidup & Kesehatan Berburu Berkah Di Bulan Ramadhan bioskop cinemaxx BUDIYANTO Cikarang Ditinggal Mudik CSR Kabupaten Bekasi Dadali Hibur Anak Yatim Cikarang Daeng Muhammad Bangun Masjid Talagamanggung di Pebayuran Demokrasi Mini Ala Warga "Berlian" Faber Castell Memperluas Pabrik di MM2100 GABUNGAN OPERATOR TV KABEL INDONESIA DEKLARASI GERAKAN NASIONAL TAYANG FTA GRATIS Gema Ramadhan dan Idul Fitri LPPM Jababeka Glorious Ramadan at Mal Lippo Cikarang GROUND BREAKING MAYFAIR Estate & Parklands di Jababeka Residence Hipertensi : Masalah Serius Pada Generasi Muda Hotel Sahid Jaya Lippo Cikarang Santuni 100 Anak Yatim Java Palace Hotel KAMPUNG HALAMAN Kapolresta Bekasi Tinjau Kesiapan Personil Amankan Mudik 2015 Kemilau Ramadhan 2015 Jababeka Residence Kodim Kawal Kegiatan Gemar Membaca Komunitas BerbagiNasi Cikarang dan Coca-Cola Amatil Indonesia Gelar Berbagi Ceria di Bulan Ramadhan Komunitas Peduli Cikarang Peduli Yatim Piatu Dan Lingkungan LATIN NIGHT BARBECUE @ GRANDE VALORE HOTEL – JABABEKA LEBARAN MENGINAP GRATIS DI HOTEL SANTIKA CIKARANG Lippo Cikarang Serahkan Bantuan Senilai 4 Papinka Goyang Basecamp NCRadio Pemasangan Kawat Gigi Penampilan Memukau Para Siswa Berkebutuhan Khusus President Special Needs Centre (PSNC) Pencegahan Penyakit Akibat Kerja PROMO “BERKAH RAMADHAN” Hotel Santika Cikarang PSNC Siapkan Pengembangan Anak Berkebutuhan Khusus Usia Dewasa PT. Suzuki Indomobil Sales (SIS) PT Cameron Services International Lulus Sertifikasi OHSAS 18001:2007 & SMK3 PT Trans Jakarta Luncurkan Bus Tingkat Pariwisata Tematik Rira GreenPark Kembangkan Cluster Perkantoran Dan Pergudangan Khusus UKM Samsung Siap Produksi Ponsel dan Tablel Sebanyak 1 Juta/Bulan Sekjen Aspelindo : Pemda Harus Siapkan SDM Lokal Hadapi MEA Soft Opening Batiqa Hotel Suzuki Tambah Investasi Tasyakuran Kelulusan Siswa SDIT An Nur Angkatan Kesembilan Wisuda Ke-10 President University